Pengertian Dan Contoh Kalimat Analogi Serta Pembahasan


Istilah analogi adalah kalimat yang membandingkan dua hal yang memiliki kemiripan makna.  Sehingga dengan memberikan dua hal yang memiliki kemiripan makna ini, diharapkan seseorang yang mendengarkan dapat menangkap makna yang dimaksud oleh si pembicara. Dalam ilmu bahasa, analogi merupakan persamaan antar bentuk yang menjadi dasar terjadinya bentuk-bentuk lain. Dalam kehidupan sehari-hari analogi diambil dari pengamatan gejala dalam kehidupan dengan membandingkan objek yang diamati dengan objek yang dianalogikan. Berikut beberapa contoh kalimat analogi dan pembahasannya.
  • Seseorang yang tidak tau akan berbuat apa untuk masa depanya sama halnya dengan pelancong yang tidak membawa peta.
Kalimat tersebut membuat persamaan antara ketidaktauannya dengan pelancong yang tidak membawa peta. Karena seorang pelancong yang tidak membawa peta tidak tau kemana akan pergi atau kembali. Sehingga jika seseorang tersebut tidak tau mau berbuat apa untuk masa depannya akan tersesat seperti pelancong tersebut.
  • Membaca buku adalah memahami sepaham-pahamnya bukan sekedar membaca sebanyak-banyaknya seperti shalat sunnah yang kusyuk bukan sekedar seberapa banyak rakaatnya.
Pada kalimat analogi tersebut, si pembicara menyampaikan pesan bahwa membaca buku seharusnya secara teliti dan tidak sekedar membaca sebanyak-banyaknya atau menyelesaikan satu buku dalam waktu yang singkat karena yang terpenting dari membaca adalah hasil ilmu yang didapatkan. Dalam hal ini pembicara berusaha agar lawan bicara dapat lebih menangkap maksud yang ia sampaikan dengan menganalogikan membaca dengan shalat sunnah. Karena dalam shalat sunah, seorang muslim bisa saja melakukan shalat dengan jumlah rakaat yang banyak. Namun apakah ini effektif jika orang tersebut shalatnya tidak khusyuk.
  • Wanita yang menjaga hati dan pikirannya memiliki kecantikan yang alami dari dalam hati seperti air pegunungan.
Analogi yang digunakan oleh pembicara dalam hal ini, dengan membuat persamaan dengan alam. Pembicara berusaha menyampaikan maksud dengan menyamakannya dengan air pengunangan yang bersih, segar, dan alami. Diharapkan dengan menganalogikan dengan air pegunungan, pendengar dapat mengimajinasikan pesan yang ia sampaikan. 
  • Hati dan ucapan Nita sopan, santun, dan mendamaikan seperti embun pagi di awal musim hujan.
Dalam hal ini, pembicara menggunakan analogi seperti embun agar orang yang mendengarkan dapat memahami maksud yang ingin ia sampaikan. Penggunaan analogi adalah sebagai perumpamaan bahwa hati dan ucapan nita sopan, santun dan membuat hati damai seperti embun pagi di awal musim hujan. Kenapa harus embun di awal musim hujan? Karena embun di awal musim hujan adalah embun yang paling ditunggu-tunggu oleh orang-orang setelah melewati musim kemarau yang panjang.
  • Seperti bermain bola yang memerlukan teknik menggiring bola, kerjasama tim, dan saling memahami pemain, memimpin perusahaan adalah hal yang kompleks.
Perumpamaan yang digunakan di dalam kalimat analogi di atas menyamakan kata memimpin dengan bermain bola. Dijelaskan dalam kalimat di atas bahwa memimpin perushaan bukan hal yang mudah, melainkan hal yang kompleks seperti bermain bola yang memerlukan teknik menggiring, kerjasama tim, serta saling memahami antar pemain. Dalam kalimat tersebut pembicara meletakkan klausa perumpamaan di awal kalimat sehingga memberikan penekanan di awal kalimat baru menjelaskan apa yang ingin disampaikan.

  • Setiap bayi yang terlahir ke dunia ini berada dalam keadaan suci seperti kertas putih.
Pada kalimat tersebut, pembicara berusaha membuat perumpamaan atau analogi dengan menyamakan setiap bayi yang lahir dalam keadaan suci seperti kertas putih. Karena setiap bayi yang terlahir memiliki keadaan suci dan terbebas dari dosa. Namun ibunyalah yang membuatnya kotor. Setiap bayi yang terlahir, jika ibunya mendidiknya dengan baik dan benar akan tumbuh menjadi anak yang baik.
  • Menuntut ilmu memang melelahkan, sama seperti mendaki gunung.
Analogi yang digunakan di dalam kalimat tersebut menggunakan persamaan dengan usaha yang harus kita keluarkan ketika mendaki gunung. Pembicara berusaha mengungkapkan bahwa menuntut ilmu seperti mendaki gunung. Perlu banyak usaha untuk mencapai puncak gunung namun ketika sudah mencapai puncaknya, rasa lelah akan terobati ketika melihat pemandangan dari puncak gunung.
  • Mencari cinta yang sempurna seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
Analogi yang digunakan dalam kalimat ini adalah dengan perumpamaan mencari di tumpukan jerami. Pesan yang pembicara sampaikan adalah bahwa mencari cinta bukanlah hal yang tidak mungkin. Seperti mencari jarum ditumpukan jerami maksudnya adalah bahwa hal ini adalah hampir tidak mungkin dilakukan. Meskipun ada kemungkinan, tapi lebih baik kita menerima seseorang apa adanya dan berusaha agar saling memperbaiki diri dari pada mencari yang sempurna.
  • Cinta yang hilang bukan meninggalkan luka tapi pelajaran hidup, seperti hujan yang membasahi dedaunan.
Pembicara berusaha menyampaikan bahwa tidak ada gunannya menangisi setiap cinta yang hilang karena cinta yang telah pergi seharusnya memberikan pelajaran agar kita bisa mencari cinta yang lebih baik lagi dan bukan menyesali cinta yang telah pergi. Analogi yang digunakan di dalam kalimat ini untuk memperjelas bahwa cinta yang telah pergi seperti hujan yang membasahi dedaunan. Karena air hujan memang membuat daun-daun menjadi basah tapi banyak juga manfaatnya seperti membersihkan dedaunan dari debu yang menempel di dedaunan hingga membasahi tanah yang menyuburkan tanah. Selain itu juga air hujan akan menguap seiring dengan terbitnya matahari. Dari hal ini kita bisa memetik pelajaran dari turunnya air hujan untuk melupakan luka dan mengambil pelajaran darinya.
  • Mendidik seorang anak dengan cara memarahi justru akan membuat kecerdasannya tidak berkembang, seperti merawat bonsai.
Hal ini memberikan perumpamaan dengan menyamakan mendidik anak dengan cara tidak memarahinya. Karena dampak dari anak-anak yang sedang dalam proses berkembang adalah rusaknya jaringan otak yang sedang berkembang. Pembicara berusaha menganalogikan hal ini dengan merawat bonsai. Karena ketika merawat bonsai kita justru membuatnya agar tidak berkembang. Ketika merawat bonsai kita hanya mencari keindahan dari bonsai tapi tidak mengizinkannya tumbuh besar dengan memotong daun-daunnya dan mengikatkan kawat di batangnya agar ranting-rantingnya tidak membesar. Sehingga analogi yang digunakan bermaksud memarahi anak-anak seperti menghambat anak-anak agar otaknya berkembang seperti merawat bonsai yang tidak akan berkembang.

Demikian penjelasan mengenai kalimat analogi dan contoh-contohnya serta penjelasan dari analogi tersebut. Semoga teman-teman dapat memahami artikel ini serta dapat mengaplikasikan dalam keilmuan berbahasa.
Pengertian Dan Contoh Kalimat Analogi Serta Pembahasan | Widia Muliadi | 5

0 komentar:

Posting Komentar